Ina Rachman Qnet Perempuan Islami, Pembela Perempuan di Bidang Hukum

ina rachman qnet

Ina Rachman qnet – Dalam tatanan budaya dan agama masyarakat Indonesia, kecenderungan patriarki masih dominan dan langgeng. DI berbagai aspek kehidupan, budaya ini masih cukup mudah untuk ditemukan. Mulai dari aspek politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan juga hukum. Meski saat ini banyak perempuan islami yang memperjuangkan hak kaum perempuan, nyatanya, ketidak setaraan gender masih mendominasi.

DI Indonesia sendiri, hubungan laki-laki dengan perempuan masih terlalu terpengaruh oleh ideologi gender dengan budaya patriarki. Patriarki sendiri memiliki arti posisi laki-laki pada struktur masyarakat menjadi penguasa sentral, tunggal, serta segala-galanya.

Sistem ini mendominasi kebudayaan sehingga muncul adanya ketidakadilan gender di berbagai aspek kegiatan manusia. Posisi perempuan pun ada lebih cenderung menjadi inferior dan subordinat pada laki-laki dan tidak diikutsertakan pada pembentukan pranata sosial.

Laki-laki mempunyai kontrol yang besar di masyarakat dan keluarga. Sedangkan perempuan mempunyai suara yang lemah dan pengaruh kecil. Perempuan pun dikelilingi oleh seperangkat aturan yang membatasi dan membelenggu ruang geraknya. Sehingga, budaya patriarki mendorong adanya perbuatan kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan pada perempuan.

Kekerasan pada perempuan justru banyak terjadi pada kaum perempuan. Kekerasan sendiri bisa diartikan sebagai suatu serangan pada fisik atau integritas mental dari seseorang. Sehingga, kekerasan juga tidak hanya diartikan sebagai pemerkosaan, penyiksaan, atau pemukulan semata. Melainkan juga yang memiliki sifat non fisik seperti paksaan, ancaman, dan lain-lain.

Tokoh Pembela Perempuan Lemah

Dalam rumah tangga dan perceraian, perempuan memang menjadi pihak yang paling banyak dirugikan. Pasalnya, banyak juga perceraian yang diakibatkan adanya penderitaan fisik, psikologis, dan fisik perempuan. Bahkan, banyak kasus pemaksaan dan perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang.

Hal ini menimbulkan keprihatinan bagi seorang lawyer bernama Ina Herawati Rachman, SH, MH. Perempuan kelahiran Singapura, 21 Januari 1976 ini pun kerap membantu perempuan-perempuan untuk menghadapi kasus perceraiannya.

Bukan tanpa alasan, perempuan islami ini juga pernah mengalami ketidakadilan dalam rumah tangganya. Bahkan, keadaan tersebut menuntutnya untuk bercerai hingga dua kali. Tentu saja, Ina sadar bahwa dalam kasus tersebut, perempuan banyak menjadi korban dan bisa memberikan efek yang negatif.

Ina tidak ingin ada perempuan lain yang merasakan efek negatif tersebut seperti dirinya. Hingga akhirnya, ia memang kedapatan kerap menjadi pengacara untuk kasus perceraian terutama di kalangan artis.

Beberapa perempuan yang ia bantu dalam persoalan hukumnya diantaranya Risty Tagor, Elma Theana, istri Ustadz Zakky Mirza, istri penyanyi Opick, Marcella Zalianty, dan juga Eddies Adellia.

Bagi Ina Rachman, membantu perempuan lain terutama dalam kasus perceraian. Pasalnya, Ina menganggap bahwa perceraian adalah musibah. Sehingga, ia ingin melakukan pengabdian semata. Bahkan, Ina tidak memungut biaya dari bantuan hukum yang diberikannya untuk berbagai kasus perceraian.

Perempuan Islami Harus Menolong Perempuan Lain dari Diskriminasi Gender

Setiap tahun, catatan kekerasan terhadap perempuan semakin bertambah. Bahkan, menurut data dari Komnas Perempuan, dalam dua jam selama sehari, ada tiga perempuan yang menjadi korban dari kekerasan seksual di negara ini. Mulai dari kekerasan fisik, psikis, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan pada istri, pencabulan, pemerkosaan, hingga trafficking.

Kini, sudah saatnya bagi banyak pihak terutama perempuan islami untuk menghentikan diskirimasi gender. Harus lebih banyak lagi sosok seperti Ina Rachman yang memperjuangkan nasib perempuan. Perempuan Indonesia harus menjadikan Ina sebagai contoh yang nyata seseorang yang ada di garda terdepan memperjuangkan perempuan lain.

Perempuan Indonesia juga harus menegakkan hak asasi manusia bagi perempuan di berbagai lini kehidupan. Pun, di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Perempuan bisa memperjuangkannya sesuai dengan keahliannya masing-masing. Entah itu secara politik, ekonomi, hukum, dan juga sosial budaya. Seperti Ina yang melakukan pengabdian di bidang hukum sesuai dengan pendidikan yang dijalaninya

Dengan memberikan bantuan dan semangat kepada perempuan yang tertindas dan teraniaya, maka akan lebih banyak perempuan yang tertolong hidupnya. Sebab, diskriminasi gender benar-benar menindas perempuan dari berbagai aspek kehidupan. Semangat Ina Rachman harus ditularkan kepada banyak perempuan muda.

Sehingga, banyak perempuan yang bangkit dan bergerak maju, membawa perubahan untuk kemerdekaan negara, bangsa, dan agama.

Share